Saat pertama kali dilantik sebagai kepala sekolah di SD Tunas Bhakti, Bu Ratri datang dengan semangat membara dan rencana besar. Visi digitalisasi sekolah, target kenaikan akreditasi, bahkan rencana penggunaan sistem informasi sekolah dari Kamadeva, semua sudah disiapkan dengan rapi. Tapi satu bulan berlalu, dan kenyataan memukulnya keras.
Rapat berjalan kaku. Guru-guru hanya mengangguk tanpa komentar. Beberapa mulai menghindar. Bahkan Pak Darto—guru senior yang biasanya paling vokal—mendadak jadi pendiam. Hati kecil Bu Ratri mulai bertanya: “Apa yang salah?”
Hingga suatu siang, ia melihat Bu Santi—guru kelas 2—duduk di bangku taman, menatap layar laptopnya yang eror karena kesulitan login ke aplikasi sekolah terintegrasi. Ketika Bu Ratri mendekat, Bu Santi hanya tersenyum kaku, “Maaf Bu, saya belum bisa ikut ritmenya. Takut malah menghambat.”
Hari itu, Bu Ratri menangkap sesuatu yang belum pernah ia sadari sebelumnya. Ia telah bicara terlalu banyak… dan mendengarkan terlalu sedikit.
Malamnya, Bu Ratri membaca ulang jurnal yang dulu hanya ia kutip saat membuat program: The Paradoxical Relationship between Principals’ Transformational Leadership Styles and Teachers’ Motivation (Adarkwah & Zeyuan, 2020). Dan di sanalah ia temukan jawaban: gaya komunikasi pemimpin yang terlalu menuntut bisa jadi malah menurunkan motivasi guru.
Transformational leadership bukan tentang banyak bicara soal visi, tapi tentang membangun rasa memiliki bersama. Visioning, Decision Making, dan Stakeholder Collaboration yang dimaksud bukanlah strategi papan tulis, melainkan percakapan hati ke hati.
Keesokan harinya, rapat bulanan berubah format. Alih-alih memimpin dengan proyektor, Bu Ratri duduk melingkar bersama para guru. Ia mulai dengan satu kalimat:
“Selama ini saya banyak bicara. Sekarang, saya ingin banyak mendengar. Menurut kalian, apa yang paling membuat pekerjaan kita berat… dan apa yang bisa saya bantu?”
Satu per satu guru mulai bicara. Tentang kekhawatiran, ketidaksiapan digital, dan kebutuhan pelatihan ulang untuk administrasi sekolah online. Tentang bagaimana mereka ingin dilibatkan dari awal, bukan diberi perintah di akhir.
Sejak hari itu, suasana di sekolah berubah. Bu Ratri mengajak guru merancang bersama penerapan software sekolah 4.0, memastikan semua mendapatkan pelatihan yang sesuai kemampuan. Bahkan guru-guru ikut mengembangkan konsep manajemen sekolah digital dan menciptakan kurikulum kolaboratif.
Yang paling mengejutkan? Pak Darto kembali aktif. Ia bahkan menjadi mentor digital bagi guru-guru muda. “Baru kali ini saya merasa jadi bagian dari perubahan, bukan sekadar objeknya,” ujarnya.
Kini, SD Tunas Bhakti dikenal sebagai sekolah inklusif digital pertama di kecamatannya. Dan semua berawal dari keberanian Bu Ratri mengubah cara bicara—dari seorang atasan… menjadi rekan sejati.
Bu Ratri membuktikan: komunikasi yang tulus bisa mengubah sistem. Dan dengan dukungan platform seperti sekolah gratis dan tools dari Kamadeva, digitalisasi pendidikan bukan lagi impian, melainkan kenyataan yang dibangun bersama.